Selasa, 23 Desember 2008

Menata Hati


Pagi ini sms beruntun memenuhi inbox ponselku.

Dari temenku sebut sj A ;” Iya dia lolos, aku ikhlas tapi koq pengen nangis ya??” balasnya sesaat setelah aku mengabarinya kalau teman kami lolos cpns yang kami ikuti bersama.

Temenku yang lain sms dengan isi yang kira2 sama :’Si x lolos cpns an lho, udah tau?g tau kenapa aku kok ngiri en pengin nangis euy” katanya.

Sms2 itu aku terima disaat aku sendiri juga sedang menata hati. Seperti juga mereka, aku punya perasaan yang sama. Ada rasa ngilu yang sangat. Perasaan membanding-bandingkan yang aku sadar itu bukan tindakan bijak. Hatiku sudah terkena virus iri. Wajar mungkin kalau aku iri..Sudah dua kali aku ‘iseng2’ ikut cpns. Pertama di deplu dan kedua di kpu dua2nya gagal. Awalnya aku mencoba peruntungan itu dengan perasaan ‘nothing to lose’ pikirku:pun ketika gagal wajar wong yang daftar puluhan..ribu!Kalau dapat ya syukur kalo ngga’ ya ngga masalah. Tapi keadaan koq menjadi lain ketika beberapa teman dekat, yang ikut mendaftar, ternyata lolos seleksi. Hati tiba-tiba ciut. Ada perasaan jengah menggelayut. Penyesalan datang tiba-tiba. Kenapa aku ngga lolos y?Kenapa si fulanah selalu mendapatkan sesuatu tanpa kesulitan berarti?kenapa aku tidak?Kapan aku akan seperti dia? Dunia menjadi semakin menyempit dengan pikiran-pikiranku yang juga ikut menyempit. Begitukah hukum Allah berjalan?tak ada yang tau kehendakNya. Semua adalah titik-titik misteri yang menjadi garis nasib pada akhirnya.

Untunglah aku cepat tersadar. Aku punya banyak hal yang mungkin orang lain tidak punya. Orangtua, kesehatan, pekerjaan dan mimpi. Astaghfirulloh..Fabiayi a la irabbikumatukadzibaan…

Mengkufuri nikmatNya itu sangat mudah, sebaliknya, mensyukuri nikmatNya adalah yang tersulit. Syukur sangat berkorelasi dengan ikhlas. Ikhlas dengan semua yang diberikanNya. Suka, duka, hal-hal yang diinginkan, yang tak diinginkan diterima dengan ikhlas sekaligus meyakini bahwa apa yang diberikanNya adalah yang terbaik untuk kita. Meski terbaik menurutNya tidak selalu baik di mata kita. Kegagalan bertubi2 akan menjadi ujian terberat untuk menjadi seorang Mukhlis. Hati, logika dan pikiran akan bersekutu meragukan rencanaNya. Dan keraguan padaNya adalah muara dari segala kekecewaan kita. Naudzubillah..

Karena itu y Allah cukupkan aku dengan nikmat yang Kau beri. Jagalah hati ini dari perasaan iri dan jauh dariMu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar