Kamis, 06 Agustus 2009

The Day When U Don’t Belong



Suatu hari dalam hidupmu. Pernahkah terasa sangat sempit?tidak tahu ke mana harus melangkah, membenci atau minimal tidak bergairah pada apapun. Hambar. Menjalani hari dengan ‘seadanya’. We lost in crowd , Alone in a crowd. Tanpa pemicu, tanpa latar belakang…just happened! Di saat seperti ini kau mulai mengutuk diri, melihat kelemahan diri secara berlebihan. Kesalahan-kesalahan masa lalu terkuak dan mencoba menghubungkannya dengan masa depan. Saat itu kita merasa tidak berada di tempat dimana kita berdiri.

Bahkan dulu aku tidak bisa memaknai perasaan ini pun sekedar menceritakannya. Sampai pada akhirnya aku melihat satu film yang sepertinya mewakili apa yang pernah dan masih sering aku alami. “The Hours”. 3 perempuan dalam 3 masa yang merasa ‘tersesat’ (lost) dalam kehidupan, yang dipandang banyak orang, normal. Semua hanya tampak dari apa yang bisa diindera. Wang sinawang kalau orang Jawa bilang.

Tapi siapa sangka..di kehidupan mereka yang sepertinya normal, dalam hati mereka ternyata ada lubang yang mereka sendiri tidak bisa menjelaskan lubang seperti apa. Mereka hanya ingin keluar dari sesak yang menghimpit hatinya. Entah ke mana dan pada siapa. Pada akhir cerita, 2 dari 3 perempuan dalam film itu memilih bunuh diri sebagai langkah ‘penyelamatan’ dirinya dari perasaan membingungkan yang menguasai hati dan akalnya!.

Pada akhirnya aku tersadar..semua orang pasti pernah mengalaminya. Perasaan bingung, khawatir, terancam dan tersesat merasa 'tak berada di tempat yang seharusnya'. Aku kemudian berpikir…Bisa jadi perasaan2 itulah yang mengantarkan manusia pada kesempurnaannya..pada fitrahnya untuk senantiasa mencariNya..mencari kebenaran hakiki yang menjadi penerang hidupnya. Di sinilah tuhan ingin menunjukkan bahwa manusia membutuhkanNya.

Kalau semua orang mengalaminya, dan berujung pada tindakan yang berbeda2 (ada yg bunuh diri, lari ke narkoba, jd temperamen atau meneyendiri atau bahkan tidak peduli), itu tergantung kualitas manusianya. Dan tentang kualitas itu bukan kapasitasku untuk menilai. W’alam. Tapi yang pasti..sampai detik ini tak terbersit sedikitpun dalam hatiku untuk mengakhiri hidup dengan minum obat nyamuk ketika perasaan seperti itu datang..bukan apa-apa, tapi karena pasti rasanya tidak enak..yuekkk..:)

O iya ada pesan menarik di film ini yang cukup bisa kita jadikan pertimbangan :

“u cannot find peace by avoiding life!”


the time to hide is over. the time to regret is gone. the time to live is now

2 komentar:

  1. hidup bukan hanya mengikuti segala keinginan....tapi mencari tahu kenapa keinginan itu tak terwujud.sebenarnya bukan dunia atau hati kita yang sempit,tapi karena keinginan kita yang menguasai seluruh hati dan pikiran kita.....yup itulah hidup tanpa arah.so jangan paksakan keinginanmu harus terwujud biarlah ia jadi mimpi kita yg selalu mengarahkan kita......

    BalasHapus
  2. berharap tulisan ini menjadi refleksi untuk siapapun,,yg pernah perih menahan kerasnya hidup atau pernah bosan menjalaninya..

    BalasHapus