Senin, 26 April 2010

Susahnya "bertetangga"

siapa bilang bertetangga itu mudah?wow akhirnya aku beraniin buat nulis tentang tetangga. tetangga di sini ngga harus diartikan sebenarnya. yaitu seseorang yang rumahnya berdekatan dengan rumah kita. tapi lebih kepada kehidupan sosial yang melibatklan kita dengan orang/pihak lain. bisa dengan sahabat, teman se-kost, teman sekantor dll. intinya adalah hubungan antarpersonal. lagi2 aku mulai dengan sms seorang teman. di tengah malam buta temanku sms. dia cuma bilang : sedih. karena aku bukan makhluk nokturnal aku baru membacanya di pagi hari. biarpun basi, aku balas sms temanku itu. sesuatu, yg aku pikir, akan menguatkannya yg memang sedang butuh bantuan.

temanku ini lumayan sering berkonflik dengan "yg lain". bukan karena dia suka konflik, atau karena bermasalah dengan kepribadian. tapi entahlah dia selalu terjebak dalam situasi yang tidak mengeenakkan itu. sedikit lebih sering lah kalau dibandingkan denganku :D . dia hanya bisa sms aku dan bertanya2: kenapa dy selalu mendapat ujian "ini". ujian yang dia pikir menguras energi dan tentu saja perasaan, dia bahkan pernah "menggugat" kenapa harus selalu dy yang mengalah.

adalagi cerita dari kakaku sendiri. dia masih dibilang keluarga muda. tinggal di sebuah perumahan 'kampung'. maksudnya bukan perumahan yang berpagar tinggi dan tidak mengenal satu sama lain tapi perumahan yang lebih mengutamakan "guyub" atau "rukun warga". kebetulan kaka kandung dan kaka iparku ini adalah pekerja. dua-duanya keluar jam 7 pagi pulang jam 8 malem. boro2 untuk kongkow2 dengan tetangga, mengurus anak aja mereka masih menyerahkannya pada pembantu. alhasil, mereka sering berkonflik dengan masyarakat sekitar. mungkin, dalam pandanganku, karena masyarakat sekitar menganggap kakakku sosok yang sombong yang tidak mau bergaul dengan warga sekitar. ada saja masalah yang timbul yang dipicu oleh masalah sepele, seperti masalah anak. anak kaka yang notabene adalah ponakanku sering dijadikan alasan tetangga kaka untuk "menyerang" kakakku. memang sih ponakan yang satu ini nakalnya naudzubillah..tp terlepas dari itu sebenarnya menurutku ada api dalam sekam yang memang akan selalu menjadi pemicu dihubungan mereka. masalah sekecil apapun, karena sudah ada like n dislike jadi hubungan akan selalu berjalan k arah yang salah. kasihan juga aku melihatnya. di tengnah kesibukan mereka, mereka harus meluangkan waktu untuk "menguras" perasaan dalam hubungan antarpersonal mereka, kali ini dengan tetangga.

cerita lain lagi adalah cerita seorang anak baru di kota baru. teman yang satu ini (sebenarnya) enggan sekali dengan yang namanya dunia baru. bukan karena tidak suka tantangan tetapi lebih kepada aspek adaptasi yang harus dilaluinya. bertemu orang baru, berteman dengan orang baru selalu saja menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri. dan tahap menyesuaikan diri, menurut temanku ini, selalu menyedot energi yang banyak. sebut saja ketika dia sesekali harus menjadi diri yang lain sebagai kompensasi dari "ketidakmengertian" lingkungan baru tentang dirinya. bukan berarti dia jadi orang lain tapi lebih kepada faktor beradaptasi. belum lagi ketika dia bercerita tentang pertemanan kecilnya dengan beberapa orang di kantor baru dimana ia sering terjebak pada situasi "rebutan pengaruh". yang satu ini tentu tidak bisa disangkal. rebutan pengaruh bukan hanya milik orang-orang di senayan. tapi bahkan di unit terkecil seperti pertemanan. ngga ada ini ngomongin ini, ngga ada itu ngomongin itu huuuh..cape deh..

pada kenyataannya memang tidak selalu mudah berhubungan dengan orang lain. siapapun itu. dengan keluarga, sahabat, teman kantor, tetangga atau teman se-kost. hukum pasti dari berhubungan dengan orang lain adalah :banyaknya tuntutan. ekstrim juga ya bahasanya. tapi memang seperti itu. kita dituntut untuk mengerti, memahami, memaafkan dan terkadang memaklumi. dan anehnya atau mungkin jarang banget kita mendapatkan hak kita : dimengerti, dipahami, dimaafkan atau dimaklumi. jadi pribadi cuek bukan jawaban, begitu juga menjadi pribadi yang sensitif. entahlah saya sendiri sejauh ini (dalam berhubungan dengan orang lain) hanya berpegang pada sebuah teorama: "siapa menanam dia akan menuai.."

teruntuk semuanya yang merasa selalu gagal dalam "bertetangga" dnt worry..sejauh itu dalam bingkai proses menuju kedewasaan kenapa kita musti khawatir?..

2 komentar:

  1. Hmmm... Saya mau ngaku ah, kalo dulu pas jaman kuliah suka berantem sama temen satu kos gara2 masalah yang kelihatannya sepele tapi mengganggu banget : mereka terlalu berisik! Tapi sekarang, saya kok jadi geli sendiri kalo mengingatnya?

    BalasHapus
  2. "berisik" bwt penulis skenario tuh masalah gede banget lho..dimaklum koq hehe..

    BalasHapus