Kamis, 03 September 2009

aku benci 'rasa' itu

Hari ini masih seperti hari yang lain. Kosong. Tak ada satupun hal yang bisa melengkapi hatiku. Hanya ada rasa bosan, hampa dan rasa yang tak terjemahkan oleh kata.


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin meyakiti mereka”


Suara dering hape hanya berhasil membuat mataku melirik. Melihat siapa yang menelpon dan kemudian berpaling. Tidak mengindahkan apalagi menjawab dering yang meraung2 itu. Mataku malah terlelap melanjutkan tidur.

Sebut saja namanya Roni. Dia pria pintar, punya pekerjaan menjanjikan, good looking meski terlihat pendek untuk ukuran laki2. ngga ada yang salah dengan pria ini selain gayanya yang sedikit katro’. Di saat2 moodku berjalan baik dia tipikal orang yang ‘lumayan’ kami bisa ngobrol tentang apapun. Tetapi kalau moodku lagi jelek ngobrol dengannya serasa siksaan. Sms2nya yang ‘ngga penting’ seringkali bikin aku males untuk membalasnya. Alhasil, maaf, aku sering tidak mengindahkan panggilannya melalui hape. Gampang koq, kalau hapeku bunyi dan namanya muncul di layer aku pura2 tidak dengar, beberapa menit atau jam kemudian aku tinggal sms:

“maaf aku ketiduran” atau “ aku lagi ke kamar mandi tadi”. Beres.


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin meyakiti mereka”


“Terserah” kata ibu itu jutek. Aku hanya bisa menarik nafas panjang untuk menahan emosiku yang sudah sampai ubun2. masa iya sih aku harus nyeramahin beliau kalau shaf dalam sholat itu sangat penting. Harus diutamakan. Karena juga berpengaruh pada kualitas sholat kita. Itu kenapa di tanah suci sana ada polisi yang khusus mengatur shaf ini. Untung saja polisi seperti ini tidak ada di Indonesia, tidak ada di mushala ini. Kalau ada, pekerjaannya tidak akan pernah selesai. Karena selain masyarakat Indonesia pada umumnya tidak begitu mengindahkan arti shaf sholat, juga karena kedisiplinan masyarakatnya..haduuh..payah banget. Hati ini rasanya ‘kemrungsung’ melihat shaf masih belang-bentong padahal Imam sudah melafadzkan takbir..ughh..


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin meyakiti mereka”


Ponakanku yang satu ini memang kelebihan adrenalin. Tingkahnya naudzubillah kalau lagi ‘kumat’. Jahilnya itu lho. Orang lagi baca dia gangguin. Muter2 ngga jelas di sekitarku dengan bunyi2an aneh yang keluar dari mulutnya ‘’ngeeengggg…” bunyinya menirukan bunyi mobil. Atau “dor..ya di sana..dor..der..dor..” menirukan anggota densus 88 yang sedang mengepung teroris. No words coming out aku hanya berpikir keras untuk mencari tempat ‘sepi nan damai’ di rumah kecil ini. Naas, karena tidak pernah akan aku temukan tempat seperti itu di rumah ini. Ughh..


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin meyakiti mereka”


Meski aku mengenalnya sebagai kaka ipar terbaik di dunia, tapi toh dia tetap manusia yang punya emosi. Aku tidak bisa selamanya mengharap dia bertingkah manis dan menerima setiap tindak tandukku. Aku sadar sepenuhnya, dia juga manusia. Yang juga merasakan marah, sedih, kecewa atau gembira. Meski kami sangat cocok pada awalnya. Tapi kedekatan geografis (ini karena aku tinggal di rumahnya yang juga rumah kaka cowokku) membuat masing-masing dari kami tau ‘sesuatu’ dalam diri masing-masing yang sangat mungkin bagi masing-masing kami untuk tidak menyukainya. Gesekan-gesekan yang awalnya tidak terjadi karena kami berada di dua tempat berbeda dan bertemu hanya setahun sekali, sekarang makin sering terjadi. Meskipun bukan gesekan2 berarti. Yaah mungkin hanya ‘aksi diam’ ketika masing-masing dari kami kecewa atas satu dengan yang lain karena ternyata aksi diam adalah aksi yang sama yang kami ‘pilih’ untuk mengekspresikan ketidaksukaan. And honestly,,I hate when that moment appears. Ughh..


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin menyakiti mereka”


ps: maaf untuk semua org yg menjadi 'korban' ke 'aku' anku, korban saat 'rasa' itu datang..deeply sorry i don't mean it


Tidak ada komentar:

Posting Komentar