Selasa, 08 September 2009

When Life Gets Hard

"la..la..la..la life is wonderful"
"la..la..la..la life goes full circle"
(Jason Mraz)

Yup.. hidup memang berputar. kadang bahagia kadang sedih karena itu hidup menjadi luarbiasa. dan ada saat ketika hidup terasa berat..

aku pernah dapet email ini dr seorang teman:
Dear Friends,
Saat aku loncat dari gedung,
Kulihat pasangan yang kutahu saling mencintai di lantai 10 sedang bertengkar dan saling memukul.
Kulihat Peter yang biasanya kuat dan tabah sedang menangis di lt. 9
Di lt.8 Ah Mei memergoki tunangannya sedang bercinta dengan sahabatnya
Di lt.7 Dani sedang minum obat anti depresi
Di lt.6 Heng yang pengangguran terus membeli 7 koran untuk mencari lowongan kerja tiap hari
di lt. 5 Mr. Wong yang sangat dihormati publik sedang mencoba baju dalam istrinya
di lt.4 Rose sedang bertengkar hebat dengan pacarnya
Di lt. 3 pak tua sedang mengharapkan seseorang datang mengunjunginya
Di lt.2 Lily sedang memandangi foto suaminya yang sudah meninggal 6 bulan lalu

Sebelum aku melompat dari gedung, kupikir aku orang yang paling malang
Sekarang aku sadar bahwa setiap orang punya masalah dan kekuatirannya sendiri
Setelah kulihat semuanya itu, aku tersadar bahwa ternyata keadaanku sebenarnya tidak begitu buruk
Semua orang yang kulihat tadi sekarang sedang melihat aku...
Kurasa setelah mereka melihatku sekarang, mungkin mereka merasa bahwa situasi mereka
sama sekali tidak buruk.


saat kesulitan datang, sesekali tengoklah ke luar..mungkin begitu ya intinya. karena dengan sesekali melihat keluar kita akan banyak menemukan org2 dengan masalah yg lebih berat dari kita. saat kesulitan datang..mungkin adalah saat yang tepat untuk bersyukur.

saat kesulitan datang..mungkin saat itu kualitas diri kita sedang diujiNya.Dia sedang ingin tau sampai sejauh mana kita memaknai sebuah peristiwa. Dia ingin tau mampu tidak kita bertanya: masalah ini ingin mengajariku apa? dan bukan malah bertanya:kenapa ini terjadi padaku?
saat kesulitan datang..di situlah awal kita menjadi dewasa,,dan terus dewasa..

Minggu, 06 September 2009

Mengunjungi Masa Lalu

Tiba-tiba saja merasa senang membaca wall post dari seorang teman. bukan teman istimewa..tapi teman yg selalu membuat terkagum karena sepak terjangnya.
Dulu, kami tidak bisa dibilang akrab. Tapi juga tidak bisa dibilang jauh.Dia dan aku selalu bersama (dlm perbedaan :P)alhasil sering sekali, dalam kurun kebersamaan kami, terjadi silent clash (karena emang ngga pernah 'bunyi') diantara kami.

pertemanan kami ini memang unik. kami saling memuji di tengah 'kikuknya' hubungan kami. saling melempar intrik di tengah kerja bareng kami. saling 'membaca' di tengah diamnya kami. saling 'mendoakan' di tengah 'ketegangan' hubungan kami. Subhanalloh..bahkan kami sendiri (waktu itu) tidak tau apa yang terjadi. ada ikatan sangat kuat di tengah hubungan pertemanan kami yg terlihat rapuh.

Dan sekarang saat kami jauh,
aku baru sadar..
aku belajar banyak darinya
tentang diriku di matanya
diriku di mata orang lain
tentang sulitnya mengekspresikan kasih karena terbungkus ego

dan aku baru tau semua itu setelah aku jauh meninggalkan masa2 itu
well, masa lalu selalu mengajarkan kita sesuatu. hanya butuh keterbukaan hati untuk menjadikannya guru di masa depan

Kamis, 03 September 2009

aku benci 'rasa' itu

Hari ini masih seperti hari yang lain. Kosong. Tak ada satupun hal yang bisa melengkapi hatiku. Hanya ada rasa bosan, hampa dan rasa yang tak terjemahkan oleh kata.


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin meyakiti mereka”


Suara dering hape hanya berhasil membuat mataku melirik. Melihat siapa yang menelpon dan kemudian berpaling. Tidak mengindahkan apalagi menjawab dering yang meraung2 itu. Mataku malah terlelap melanjutkan tidur.

Sebut saja namanya Roni. Dia pria pintar, punya pekerjaan menjanjikan, good looking meski terlihat pendek untuk ukuran laki2. ngga ada yang salah dengan pria ini selain gayanya yang sedikit katro’. Di saat2 moodku berjalan baik dia tipikal orang yang ‘lumayan’ kami bisa ngobrol tentang apapun. Tetapi kalau moodku lagi jelek ngobrol dengannya serasa siksaan. Sms2nya yang ‘ngga penting’ seringkali bikin aku males untuk membalasnya. Alhasil, maaf, aku sering tidak mengindahkan panggilannya melalui hape. Gampang koq, kalau hapeku bunyi dan namanya muncul di layer aku pura2 tidak dengar, beberapa menit atau jam kemudian aku tinggal sms:

“maaf aku ketiduran” atau “ aku lagi ke kamar mandi tadi”. Beres.


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin meyakiti mereka”


“Terserah” kata ibu itu jutek. Aku hanya bisa menarik nafas panjang untuk menahan emosiku yang sudah sampai ubun2. masa iya sih aku harus nyeramahin beliau kalau shaf dalam sholat itu sangat penting. Harus diutamakan. Karena juga berpengaruh pada kualitas sholat kita. Itu kenapa di tanah suci sana ada polisi yang khusus mengatur shaf ini. Untung saja polisi seperti ini tidak ada di Indonesia, tidak ada di mushala ini. Kalau ada, pekerjaannya tidak akan pernah selesai. Karena selain masyarakat Indonesia pada umumnya tidak begitu mengindahkan arti shaf sholat, juga karena kedisiplinan masyarakatnya..haduuh..payah banget. Hati ini rasanya ‘kemrungsung’ melihat shaf masih belang-bentong padahal Imam sudah melafadzkan takbir..ughh..


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin meyakiti mereka”


Ponakanku yang satu ini memang kelebihan adrenalin. Tingkahnya naudzubillah kalau lagi ‘kumat’. Jahilnya itu lho. Orang lagi baca dia gangguin. Muter2 ngga jelas di sekitarku dengan bunyi2an aneh yang keluar dari mulutnya ‘’ngeeengggg…” bunyinya menirukan bunyi mobil. Atau “dor..ya di sana..dor..der..dor..” menirukan anggota densus 88 yang sedang mengepung teroris. No words coming out aku hanya berpikir keras untuk mencari tempat ‘sepi nan damai’ di rumah kecil ini. Naas, karena tidak pernah akan aku temukan tempat seperti itu di rumah ini. Ughh..


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin meyakiti mereka”


Meski aku mengenalnya sebagai kaka ipar terbaik di dunia, tapi toh dia tetap manusia yang punya emosi. Aku tidak bisa selamanya mengharap dia bertingkah manis dan menerima setiap tindak tandukku. Aku sadar sepenuhnya, dia juga manusia. Yang juga merasakan marah, sedih, kecewa atau gembira. Meski kami sangat cocok pada awalnya. Tapi kedekatan geografis (ini karena aku tinggal di rumahnya yang juga rumah kaka cowokku) membuat masing-masing dari kami tau ‘sesuatu’ dalam diri masing-masing yang sangat mungkin bagi masing-masing kami untuk tidak menyukainya. Gesekan-gesekan yang awalnya tidak terjadi karena kami berada di dua tempat berbeda dan bertemu hanya setahun sekali, sekarang makin sering terjadi. Meskipun bukan gesekan2 berarti. Yaah mungkin hanya ‘aksi diam’ ketika masing-masing dari kami kecewa atas satu dengan yang lain karena ternyata aksi diam adalah aksi yang sama yang kami ‘pilih’ untuk mengekspresikan ketidaksukaan. And honestly,,I hate when that moment appears. Ughh..


“dan ketika rasa seperti ini datang,,aku hanya ingin menghilang dan tak ingin menyakiti mereka”


ps: maaf untuk semua org yg menjadi 'korban' ke 'aku' anku, korban saat 'rasa' itu datang..deeply sorry i don't mean it